Friday 29 May 2009

Sebagian besar Camat se-Kulonprogo tidak merealisasikan 100% anggaran

Friday 29 May 2009 - 10:32:02, Laporan, administrator, Comments: 1

Laporan: Eko Budi Marwanto

Sebagian besar Camat se-Kulonprogo tidak merealisasikan 100% anggaran. Bahkan ada Camat yang hanya merealisasikan anggaran 37%, yakni Kecamatan Nanggulan. Paparan tersebut terlontar dalam Lokakarya Review RPJMD yang diselenggarakan oleh Bappeda Kulonprogo yang juga diikuti oleh partisipan Jaringan Masyarakat Kulonprogo tanggal 18 Mei 2009.  Acara ini diharidi oleh  150 orang yang terdiri dari Lembaga Daerah Pemkab Kulonprogo, Camat & Lurah se-Kab. Kulonprogo, pihak swasta & kelompok masyarakat (JMKP saja). Setelah acara dibuka oleh pembawa acara, kemudian Tim Konsultan Pemkab Kulonprogo melakukan presentasi terkait dengan kinerja pemkab dalam membreakdown RPJMD kedalam program-program kerja tahunan. Kemudian ada pihak pembahas, yakni pihak BPKP & Bappeda Provinsi DIY.
Beberapa catatan lain yang dihimpun oleh IDEA dan perwakilan JMKP dari Lokakarnya ini adalah: Pertama, Adanya pemaparan oleh Bappeda Kulonprogo, Tim Konsultan dan BPKP Provinsi DIY mengenai evaluasi program. Adapun hasil evaluasi realisasi program/kegiatan Tahun 2007 ini adalah: 60% program yang direncanakan dapat direalisasi; 28% program yang direncanakan tidak terealisasi; dan 12% program yang tidak direncanakan, tetapi direalisasikan.
Kedua, adanya pemaparan mengenai kinerja Pemkab Kulonprogo yang tidak melaksanakan 32 jenis program yang direncanakan. Diantara program-program yang tidak terealisasi tersebut adalah program pemberdayaan ekonomi masyarakat; peningkatan kapasitas aparatur, dll.
Ketiga, adanya kesempatan JMKP (disampaikan oleh Mbak Rusmiyati) untuk menyampaikan beberapa masukan kepada Pemkab Kulonprogo, diantaranya: dalam penyusunan perencanaan penganggaran hanya dibahas rencana belanja saja, tetapi tidak secara tegas membahas mengenai pendapatan yang salahsatunya merupakan kontribusi masyarakat; perlu ada program khusus yakni pemberdayaan perempuan; PDRB Kab. Kulonprogo  yang menjadi sektor unggulan adalah pertanian, tetapi rencana proyek besar seperti Lantamal, Dermaga Pendaratan Ikan, Bandara dan Penambangan Pasir Besi
Keempat, Ada masukan dari salahsatu Lurah (Anang) – nama Desanya tidak disebutkan – yang menyampaikan bahwa perlunya Musrenbangdes/Cam/Kab diselenggarakan secara lebih serius, yakni beberapa hari, sehingga hasilnya bisa lebih maksimal dan bukan sekedar legalitas formal saja. Selain itu, program-program dari masyarakat dalam musrenbang tersebut diakomodir dalam penganggaran daerah, sehingga memberi manfaat untuk masyarakat.
Dalam catatan IDEA, diperoleh simpulan bahwa dokumen hasil evaluasi mengenai rencana dan implementasi program pemerintah/SKPD dan Camat tidak disertai dengan dokumen hasil analisisnya. Selain itu,  Pemerintah/konsultan harus melakukan distribusi terhadap seluruh proses evaluasi  program-program pemerintah yang direncanakan dan diimplementasikan kepada SKPD, Camat, Lurah dan Masyarakat. Kemudian, gagasan menambah alokasi waktu untuk proses Musrenbangdes/Cam/Kab perlu dikawal dan mendesakkan untuk menambah kuota kelompok perempuan serta melibatkan partisipasi kelompok masyarakat yang lebih luas.
Selain persoalan di atas, beberapa hal berkaitan dengan pasir besi masih merupakan persoalan panas yagn terus bergulir di Lokakarya ini. (EBM/Fer)


printer friendly create pdf of this news item


Thursday 28 May 2009

PROFIL KOMUNITAS MITRA PACITAN

Thursday 28 May 2009 - 10:31:57, Komunitas Mitra, administrator, Comments: 0

IDEA telah melakukan pendampingan di kota PACITAN kurang lebih setahun lalu dalam rangka belajar bersama tentang anggaran, khususnya dalam kerangka peningkatan pengetahuan masyarakat tentang hak-haknya sebagai pembayar pajak. Beberapa ulasan tentang perjalanan IDEA bisa di akses di blog ini . Secara singkat, proses-proses yang dilakukan oleh masyarakat bersama IDEA dimulai dari pemetaan masalah, pengorganisasian komunitas sampai dengan pertemuan warga dengan stakeholder dan pemerintah daerah setempat dalam kerangka advokasi anggaran.
Berikut ini adalah profil komunitas yang bermitra dengan IDEA di Pacitan.


[ Read the rest ... ]

printer friendly create pdf of this news item


Wednesday 27 May 2009

IDEA Pertanyakan Akuntabilitas Kebijakan

Wednesday 27 May 2009 - 13:34:53, Publikasi, administrator, Comments: 1

RADAR MADIUN, Halaman 27 kolom SOSIALITA
Jumat, 8 Mei 2009

MESKI program Jamkesmas (Jaminan Kesehatan Masyarakat) telah lama digulirkan pemerintah, kenyataannya masih ada warga miskin di Kabupaten Pacitan yang belum mengetahuinya. Salah satu penyebabnya adalah kurangnya sosialisasi.
"Hasil studi di dua desa yang kami lakukan, sebagian warga miskin belum menikmati Jamkesmas," kata Yemestri Enita, salah satu staf LSM Institute Development Economic Analysis (IDEA), usai dialog dengan dinas terkait di gedung DPRD pacitan,Kamis(7/5). Dua desa yang menjadi sampel lokasi adalah Desa Sambong (Kecamatan Pacitan) dan Desa Srau (Kecamatan Pringkuku). Warga miskin di kedua wilayah itu mengaku belum mengetahui program Jamkesmas. Sehingga, mereka pun tak mendapatkan pelayanan kesehatan murah dari pemerintah ini.
Demikian pula mengenai pelayanan. Dalam pelaksanaannya, warga miskin pemegang kartu Jamkesmas terkesan dinomorduakan. Berbeda jika pasien yang berobat datang dan langsung membayar. "Karena tidak tahu, warga pun tidak pernah mengurusnya," jelasnya.
Selain Desa Sambong dan Desa Srau, IDEA juga melakukan studi di dua desa lainnya.Yakni, Desa Plumbungan dan Desa Punjung, Kecamatan Kebonagung. LSM yang bergerak di bidang advokasi anggaran, melakukan studi di Pacitan sekitar delapan. Hasilnya, partisipasi warga dalam pengambilan keputusan masih minim. Sehingga mereka tidak pernah mengetahui implementasi dari peraturan-peraturan yang diberlakukan. Persoalannya, sosialisasi hanya terbatas pada masyarakat tertentu, misalnya tingkat perangkat desa atau kecamatan.
Lebih lanjut anggota LSM yang berkantor di Yogyakarta ini mengatakan, pajak yang dibayarkan masyarakat tentunya akan kembali ke masyarakat melalui mekanisme yang dite
tapkan. Tetapi alur tersebut masih sulit untuk diikuti. Misalnya, pemungutan Pajak Penerangan Jalan Umum (PPJU). Warga diminta membayar, namun tidak kunjung mendapatkan fasilitas pelayanan penerangan jalan. "Banyak warga yang belum bisa menikmatinya."
Menanggapi berbagai persoalan yang diangkat IDEA tersebut, beberapa dinas terkait memberikan jawaban beragam. Baik mengenai kebutuhan dasar minimal masyarakat, pemanfaatan pajak dan retribusi, sampai aturan main yang didasarkan pada perda. Meski demikian, tidak menutup kemungkinan ada perubahan kebijakan yang muncul dari usulan masyarakat. Misalnya, pemasangan PJU di tempat-tempat tertentu yang memang sangat diperlukan dan sebagainya.
Sedang terkait pajak, ada klasifikasi. Baik pajak daerah, provinsi maupun pusat. Saat ini, berdasarkan perda, ada enam pajak daerah. Yakni, pajak pengambilan bahan galian golongan C, pajak hiburan, reklame, penjualan, hotel dan restoran, pajak PJU dan parkir. Sedang pajak kendaraan bermotor, air bersih bawah tanah, pemanfaat air permukaan menjadi pajak propinsi. Untuk PBB masuk pajak pusat. Hanya, terkait pajak pusat dan provinsi ada pengaturan pembagian basil. (wit/sad)

printer friendly create pdf of this news item


Tuesday 19 May 2009

Pengumuman Pengisian Form Aplikasi Dan Pertanyaan Untuk Menjadi Peserta Workshop Refleksi Advokasi Anggaran Di Indonesia

Tuesday 19 May 2009 - 13:53:59, Publikasi, administrator, Comments: 0

Salam hangat,

Semoga rekan-rekan pegiat advokasi anggaran di Indonesia dalam keadaan sehat dan bersemangat dalam memperluas gerakan advokasi di Indonesia.

Setelah melewati satu dekade yang dramatis, gerakan advokasi anggaran di Indonesia sudah dapat dikategorikan sebagai sebuah gerakan sosial nasional yang ditandai dengan dinamika sebagai berikut:
No    Penciri Gerakan Advokasi Anggaran di Indonesia Sekarang

  1. Melibatkan banyak organisasi, kelompok atau individual dengan arah perubahan yang serupa meskipun memiliki ikatan yang longgar dan tidak seluruhnya terkoordinasi.
  2. Ada diseminasi gagasan dan literatur yang sengaja dilakukan oleh pelibatnya
  3. Ada scaling-up dan replikasi dalam gerakan di banyak tempat secara random
  4. Mengalami peningkatan dalam kuantitas pelibat dan kualitas metodologi advokasinya
  5. Mengalami    diversifikasi    dalam    perspektif seperti    perspektif gender,    perspektif hak-hak    dasar, perspektif pengurangan resiko bencana, perspektif pengelolaan industri ekstraktif dan lain-lain.
  6. Mampu mempengaruhi beragam pemegang andil seperti organisasi rakyat,    kelompok sosial, pemerintah pusat, pemerintah daerah dan lembaga legislatif.
  7.  Ada perbaikan    dalam    praktek tata kelola anggaran    publik secara gradual    seperti    perbaikan prosedur partisipasi, peningkatan alokasi untuk kelompok rentan dan lain-lain.

Menilik dinamika terakhir, gerakan advokasi anggaran di Indonesia membutuhkan upaya reflektif untuk meningkatkan kualitas advokasinya.

Untuk memfasilitasi kebutuhan ini, IDEA bekerjasama dengan FITRA, PATTIRO, INISIATIF, LAKPESDAM NU dan International Budget Partnership (IBP) menyelenggarakan "Worskhop Refleksi Advokasi Anggaran di Indonesia" dengan serangkaian agenda sebagai berikut:


AGENDA   PELAKSANAAN  PARTISIPAN
 
Training Expenditure Tracking
 Rabu-Kamis, 22-23 Juli 2009 Capacity building untuk expenditure tracking skill dengan metode partisipatif di kelas dan disertai praktek di lapang.Difasilitasi oleh Vivek Ramkumar dari International BudgetPartnership (IBP). Training ini diselenggarakan dalam bahasa Indonesia. Mengikutsertakan 25 partisipan.

 Organisasi non-pemerintah yang bekerja dengan isu advokasi anggaran, pernah melakukan expenditure tracking atau telah memiliki rencanauntuk melakukan expenditure tracking sebagai pelaksanaan atas misi organisasi.


 Workshop Anggaran Pelayanan Kesehatan Dasar  Jumat-Sabtu, 24-25 Juli 2009 Workshop pelayanan kesehatan dasar untuk
memetakan masalah-masalah penganggaran untuk kesehatan dasar sekaligus
merumuskan advokasi bersama untuk perbaikan pelayanan kesehatan dasar
oleh pemerintah. Difasilitasi oleh Debbie Budlender dari International
Budget Partnership (IBP). Mengikutsertakan 25 partisipan.


 Organisasi non-pemerintah yang sedang atau pernah bekerja untuk advokasi kebijakan dan atau anggaran layanan kesehatan dasar yang disediakan oleh pemerintah di Indonesia.
Kami mengundang lebih dari 60 calon partisipan dari seluruh Indonesia. Namun mengingat keterbatasan sumber daya yang tersedia maka kami memohon ketersediaan rekan-rekan organisasi untuk mengisi lembar isian yang terlampir. Lembar isian ini akan berguna untuk menentukan daftar undangan tetap bagi training dan workshop diatas. Satu organisasi dapat mendaftar untuk kedua agenda diatas sekaligus.

Bila tertarik untuk berpartisipasi, rekan-rekan dapat mengirim-balik lembar isian yang telah dilengkapi dengan informasi yang relevan paling lambat tanggal 5 Juni 2009 ke email idea ideajogja.or.id. atau faximile ke 62-274-583900. Lembar isian dapat didownload di sini.

Atas perhatian dan kerjasamanya kami sampaikan banyak terima kasih. Segala informasi yang dibutuhkan terkait dengan kegiatan ini, silahkan hubungi Wiwid ( HP 085228787503) dan Hernindya (081328703082) atau ke Nomor Telepon IDEA (0274)583900.

English version:

Questionnaire & Application Form for IBP workshop events



The International Budget Partnership (IBP) is an international non-governmental organisation that provides support to civil society budget work in countries – especially developing countries – across the world. In 2008, IBP and Ford Foundation commissioned a country scan that assessed the status of civil society budget work in Indonesia. The scan found that Indonesia has many more organisations doing budget work than in most other countries. The scan said that there were so many organisations that one can talk about a civil society budget "movement" in Indonesia. (If you have not seen the scan report and would like to see it, please email debbieb@mail.ngo.za to ask for a copy.)

To help organisations build on the good work that is already being done, IBP plans to hold annual workshops in Indonesia. These workshops have two main aims: (a) to develop technical skills on budget work further; and (b) to document the work that is being done so that organisations in Indonesia can learn from each other and organisations outside Indonesia can learn from the good work done here.

Because there are so many organiastions doing civil society budget work, IBP will not be able to reach all of them directly. IBP has thus chosen five core organisations that have agreed to participate in all the IBP activities and help spread the learnings to other groups. These five organisations will also work on documenting interesting examples of civil society budget work in Indonesia. The five organisations are Fitra, IDEA Jogyakarta, Inisiatif, Lakpesdam and Pattiro.

In addition to these organisations, there will also be space for a limited number of people from other organisations at some parts of the annual IBP workshops. This letter gives your organisation the opportunity to apply to send one person to two different components of the workshop planned for July 2009.

The 2009 IBP workshop will be held in Jogyakarta, and IDEA will be coordinating the logistics, in consultation with IBP and the other four core organisations. There are two components that you can apply to have someone from your organisation attend:
  • On Wednesday 22 and Thursday 23 July the workshop will focus on skills-building in expenditure tracking. In choosing participants for these two days, we will prioritise people from organisations that have done expenditure tracking in the past or have definite plans to do it in the future.
  • On Friday 24 July the workshop will look at budget work related to primary health care. In choosing participants for this day, we will prioritise people from organisations that . have done policy- and/or budget-related work on primary health care.

Debbie Budlender and Vivek Ramkumar will be the international facilitators for the workshop. The working language for the workshops will be Indonesian.

IBP will cover the costs of travel to and from the workshop and accommodation and related costs of participants while they are attending.

If your organisation would like to send someone to one or both of the above components of the IBP workshop, please complete the relevant questions below. Please send the completed form to IDEA through fax or email at:

Phone/Fax: +62-274-583900
Email: idea@ideajogja.or.id

Document should also be translated into Indonesian when we have agreed on the text.

download application's here

 


In collaboration:

 


printer friendly create pdf of this news item


Tuesday 17 March 2009

PETA PERMASALAHAN DAN KEBUTUHAN KELOMPOK ANGGOTA JARINGAN KELOMPOK PEREMPUAN GUNUNGKIDUL

Tuesday 17 March 2009 - 16:26:06, Rilis, administrator, Comments: 0

JKPGK (Jaringan Kelompok Perempuan Gunung Kidul) mendapatkan kesempatan untuk bisa terlibat di forum SKPD di Gunung Kidul dalam waktu dekat ini. Karenanya hari minggu tgl 15 Maret 09 kemarin, JKPGK mengadakan pertemuan untuk persiapan dan berhasil melakukan identifikasi masalah. Berikut adalah hasil musyawarah JKPGK:


[ Read the rest ... ]

printer friendly create pdf of this news item


Go to page  1 2 3 [4] 5 ... 9 10 11

Baru


KOMUNITAS MITRA

- Kabar Dari Pacitan
- Perempuan Gunung Kidul






News for 2010

MoTuWeThFrSaSu
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930 
 


Chatbox

You must be logged in to post comments on this site - please either log in or if you are not registered click here to signup


administrator
assalamualaikum, selamat meninggalkan pesan di sini



Welcome

Username:

Password:


Remember me

[ ]
[ ]
[ ]


Counter

This page today ...
total: 20
unique: 2

This page ever ...
total: 14920
unique: 6955

Site ...
total: 23990
unique: 12049

Online

Guests: 3, Members: 0 ...

most ever online: 39
(Members: 0, Guests: 39) on 26 Jun : 00:20

Members: 26
Newest member: boydolbuy

Website Resmi IDEA (Institute for Development and Economic Analysis), Sekretariat: Jl. Kaliurang Km. 5, Gg. Tejomoyo CT III/3 Yogyakarta 55281 Telp/Fax. 0274-583900
This site is powered by Feriawan, which is released under the terms of the GNU GPL License.